• Senin, 15 Maret 2010, 17:12
Newsletter


SDA Asia Magazine Digital
      

Write for Us!

Feature
Apakah Anda Akan Membeli PC Baru?

Ditengah susana resesi seperti saat ini, usaha-usaha penghematan tenu gencar dilakukan. termasuk penghematan untuk membeli PC baru. Tapi menurut lembaga riset Techaisle, usaha mempertahankan PC tua ternyata bisa jadi lebih mahal ketimbang membeli PC baru.

Studi yang disponsori oleh Intel ini menyebutkan bahwa usaha kecil menengah (UKM) yang mempertahankan PC mereka lebih dari tiga tahun, dengan harapan penghematan biaya selama krisis, mungkin justru akan membayar lebih akibat biaya pemeliharaan, perbaikan, dan kegagalan keamanan dalam jangka panjang.

Pertumbuhan pembelian TI untuk segmen UKM yang diharapkan tumbuh sebesar 4,6% tahun ini. Tampaknya harapan itu mesti berhadapan dengan kenyataan bahwa 43% dari usaha menengah dan 26% dari usaha kecil yang disurvey, mengatakan bahwa mereka akan mempertahankan PC yang telah mereka gunakan lebih lama dari tahun lalu.

Robert Crooke, General Manager dan Vice President, Business Client Group, Intel Corporation, manyatakan dalam sebuah webcast bahwa semakin lama sebuah sistem digunakan,akan semakin tinggi resiko serangan virus dan akan mendorong kesempatan yang lebih besar bagi downtime PC.

Berdasarkan penelitian ini, PC dengan usia lebih dari tiga tahun, meningkatkan gangguan keamanan sebesar 58%. Selain itu, sistem lama yang digunakan UKM juga beresiko menghadapi kegagalan perangkat lunak sebesar 33%. Sementara bagi pengguna sistem baru hanya sebesar 8%. Kegagalan power supply juga dialami oleh 49% responden yang menggunakan sistem lama, sementara responden yang menggunakan sistem baru tercatat hanya 11%.

Crooke menyatakan bahwa periode kembali modal untuk pembelian PC baru sekitar satu tahun.

Riset ini juga menemukan bahwa pemeliharaan rutin PC-PC yang berumur lebih dari tiga tahun rata-rata pertahun menghabiskan sekitar untuk usaha kecil dan untuk usaha menengah. Sebagai perbandingan, biaya tahun pertama untuk sebuah PC baru adalah .

Survey ini dilakukan terhadap 630 usaha kecil menengah di Italia, Amerika Serikat, Inggris, India, Cina, Brazil dan Australia pada Maret tahun ini.


Eka Santhika

 
Other Feature
 
 
News
 
Article